Surabaya – Fakultas Ilmu Komputer (FIK) UPN “Veteran” Jawa Timur menyelenggarakan Kuliah Tamu (Dosen Praktisi) bertema “From Clinical Problems to Medical Devices: How Healthcare Technology Becomes a Real Industry” pada Selasa, 29 September 2026. Kegiatan berlangsung secara luring di Ruang Seminar FIK Lantai 3, Gedung FIK 2, dari pukul 09.00 hingga 12.15 WIB.
Kuliah tamu ini menghadirkan Imam Subagio, SE., MM, Ketua Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), sebagai narasumber utama. Narasumber pendamping adalah Assoc. Prof. Ir. Ts. Dr. Mohd Zamri Ibrahim dari Faculty of Electrical and Electronics Engineering Technology, Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA). Dr. I Gede Susrama Mas Diyasa, ST., MT., IPU., bertindak sebagai moderator.

Mengurangi Ketergantungan pada Alat Kesehatan Impor
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pasar alat kesehatan (alkes) nasional yang masih didominasi produk impor. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 70 persen kebutuhan alkes nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Per Juni 2024, izin edar alkes impor tercatat 54.127, sedangkan alkes dalam negeri 14.208. Di sisi lain, produksi alkes dalam negeri disebut naik lebih dari tiga kali lipat sejak 2022 seiring kebijakan percepatan industri dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Alkes modern semakin bergantung pada perangkat lunak, mulai dari kecerdasan buatan untuk analisis citra medis, computer vision, hingga Internet of Things (IoT) untuk pemantauan pasien. Namun, perjalanan dari prototipe ke produk berizin edar menuntut pemahaman tentang validasi klinis, klasifikasi risiko, sistem manajemen mutu, dan model bisnis, yang belum sepenuhnya tercakup dalam kurikulum ilmu komputer.
Tiga Syarat Teknologi Kesehatan Menjadi Industri
Dalam pemaparannya, Imam Subagio menekankan bahwa teknologi kesehatan baru menjadi industri jika memenuhi tiga syarat sekaligus:
- Berangkat dari kebutuhan klinis nyata yang divalidasi bersama tenaga kesehatan.
- Lolos gerbang regulasi dan standar mutu, meliputi izin edar Kemenkes, CPAKB, serta standar seperti ISO 13485, IEC 60601, dan IEC 62304.
- Terhubung ke rantai pengadaan dan pasar, antara lain melalui TKDN dan katalog elektronik sektoral kesehatan.
Ia juga memaparkan peluang bagi lulusan ilmu komputer, antara lain Software as a Medical Device (SaMD), analisis citra medis berbasis AI, pemantauan pasien jarak jauh berbasis IoT, keamanan siber perangkat medis, dan interoperabilitas data kesehatan.

Pelajaran Hilirisasi Riset dari UMPSA
Dr. Mohd Zamri Ibrahim, yang berlatar belakang AI, computer vision, IoT, dan biomedical engineering, berbagi pengalaman membawa hasil riset laboratorium ke pasar. Pola yang ia paparkan meliputi riset yang berangkat dari masalah nyata pengguna, pendanaan bertahap dari hibah riset hingga komersialisasi dan investasi, serta pembentukan perusahaan rintisan berbasis riset sebagai kendaraan menuju pasar. Kepada mahasiswa, ia menganjurkan membangun portofolio riset yang terhubung dengan kebutuhan industri sejak jenjang sarjana.
Sesi pemaparan dilanjutkan dengan diskusi panel dan tanya jawab, tempat peserta mengaitkan materi dengan riset, proyek, dan rencana karier masing-masing. Kegiatan diikuti mahasiswa lintas program studi dan angkatan serta dosen dan tenaga kependidikan FIK.

Mendukung IKU dan SDGs
Kegiatan ini didukung oleh ASPAKI, Insyde Innovations, Abimanyu, dan Sinergi-AIoT. Kegiatan ini berkontribusi pada capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, terutama IKU 7 tentang kontribusi pada SDGs (SDG 3, 4, 8, 9, dan 17). Kegiatan ini juga menjadi pendukung IKU 5 (kerja sama dan hilirisasi), IKU 2, IKU 3, dan IKU 6.
Sebagai tindak lanjut, FIK berencana memformalkan kerja sama dengan ASPAKI, menjajaki riset dan publikasi bersama dengan UMPSA, serta mengintegrasikan materi regulasi dan hilirisasi alkes ke dalam mata kuliah yang relevan. Mahasiswa juga didorong mengangkat topik alkes dalam PKM, tugas akhir, dan kompetisi inovasi.